TERJEMAHAN

Tuesday, 13 September 2011

IDUL FITRI TERNYATA 30 AGUSTUS 2011

Terjawab sudah perbedaan  mengenai penentuan idul fitri 1 syawal 1432  Hijriah  Hari Senin (12/9/2011) malam, fase kemunculan bulan dalam pandangan manusia di bumi sudah 100 persen atau biasa disebut sebagai puncak bulan purnama. Jika dihitung mundur 15 hari ke belakang, maka Senin, 29 Agustus 2011, sudah memasuki 1 Syawal 1432 Hijriyah.


Hal itu dikemukakan Mustofa B Nahrawardaya seorang pengamat dari Indonesian Crime Analyst Forum, lewat rilisnya, Senin (12/9) malam.
Pengamatan bulan purnama tersebut merupakan kelanjutan dari perdebatan soal penentuan 1 Syawal 1432 Hijriyah alias Hari Raya Idul Fitri 2011. Sebelumnya, Kementerian Agama dan sejumlah organisasi Islam menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu 31 Agustus. Sementara Muhammadiyah dan beberapa ormas Islam lain menentukan 1 Syawal pada Selasa, 30 Agustus 2011.
Menurut Mustofa B Nahrawardaya, Senin siang lalu fase bulan sudah mencapai 100 persen. Selain dapat dilihat secara kasat mata pada Senin malam, informasi ini juga bisa diperiksa pada www.moonconnection.com, sebuah berisi konten astronomi, khususnya seluk beluk bulan dan persoalannya.

Sementara itu, kalender fullmoon lain seperti www.fullmoon.info dan www.moonphases.info juga mengabarkan perhitungan serupa.

“Hari Senin, saya cek, dan hasilnya adalah bulan sudah mencapai fase 100 persen. Bulan Purnama terjadi Senin, meski jamnya berbeda-beda, tergantung posisi pembagian waktunya,” katanya.
Mustofa mengungkapkan bahwa bulan purnama bisa dijadikan patokan untuk menemukan kapan terjadinya tanggal 1 Syawal. Alasannya, purnama pasti terjadi pada pertengahan bulan atau tanggal 15 setiap bulannya.  Karena purnama terjadi hari Senin, 12 September 2011, maka otomatis 15 hari yang lalu adalah tanggal 1 Syawal.

“Sangat sederhana. Saya sudah menghitung, dan memang benar, ketemulah bahwa tanggal 29 Agustus 2011 memang sudah memasuki tanggal 1 Syawal 1432H,” katanya.

FAKTA DI BALIK TRAGEDI 11 SEPTEMBER

Tak terasa sepuluh tahun berlalu sejak 19 teroris Al-Qaeda membajak empat pesawat penumpang komersial Amerika Serikat (AS) dan menabrakkan mereka ke Menara Kembar World Trade Center (WTC) dan Pentagon. (Pesawat keempat, yang seharusnya diarahkan ke Gedung Parlemen AS atau Gedung Putih, jatuh di sebuah ladang kawasan pedesaan di Pennsylvania dan menewaskan seluruh penumpang di dalamnya).

Diperkirakan 3000 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka dalam peristiwa yang jadi berita terbesar di zaman modern itu. Di balik semua kisah tragis dan menyeramkan, terdapat fakta-fakta mengejutkan yang mungkin belum Anda ketahui.

Dua puluh orang selamat dari balik puing bangunan
Penelitian terhadap para korban selamat WTC menyebutkan, 20 orang berhasil dikeluarkan hidup-hidup dari bawah puing bangunan. Di antara yang selamat itu adalah John McLoughlin dan William Jimeno, dua orang polisi pelabuhan. Mereka diselamatkan setelah terkubur di balik puing selama 13-21 jam. Mereka menjadi karakter dalam film tahun 2006 karya Oliver Stone “World Trade Center”.

Pasquale Buzzelli, seorang insinyur dari pengelola pelabuhan, dan Genelle Guzman, seorang sekretaris, sedang berada di lantai 64 Menara Utara saat gedung tersebut ditabrak pesawat. Buzzelli pingsan selama tiga jam, dan terbangun di atas tumpukan puing, menghadap ke langit. Kakinya patah, banyak luka dan gegar otak saat diselamatkan oleh regu penyelamat. Guzman yang berada di dalam puing baru dapat diselamatkan 27 jam setelah menara runtuh. Kakinya luka parah tertindih reruntuhan namun kembali pulih empat bulan kemudian.

Jumlah korban tewas terbesar kedua berkewarganegaraan Inggris
Bukan hanya orang Amerika yang menjadi korban dalam serangan ke WTC dan Pentagon. Lebih dari 80 negara yang kehilangan setidaknya satu warganya pada hari naas tersebut, termasuk Jepang, Irlandia, Inggris, Australia, Selandia Baru, Swiss, India, Meksiko, Brasil, Afrika Selatan dan Kanada. Di antara 372 warga asing yang tewas, 67 diantaranya berkewarganegaraan Inggris.

Ron DiFrancesco berhasil melarikan diri dari dalam Menara Selatan WTC saat runtuh
DiFrancesco (37), warga Kanada, berhasil keluar dari dalam Menara Selatan WTC saat pesawat kedua menghantam di antara lantai 77 dan 85. Setelah susah payah turun hingga lantai dasar, DiFrancesco berhasil meninggalkan gedung yang kemudian luluh lantak tersebut.

Akibat terkena jilatan api, DiFrancesco terbangun di rumah sakit dengan luka bakar di sekujur tubuh dan patah tulang belakang. Dia merupakan salah satu dari hanya empat orang yang berhasil melarikan diri hidup-hidup dari Menara Selatan.

Kobaran api bertahan selama 99 hari
Butuh 99 hari untuk menangani kobaran api di Ground Zero sampai padam total. Pada 11 September pukul 8.46 pagi waktu setempat, hantaman pesawat pertama ke Menara Utara mulai menyulut api. Kobaran api baru benar-benar padam pada 19 Desember 2001.

Terdapat gedung ketiga yang juga runtuh
WTC Menara 7, sebuah gedung 47 lantai dan salah satu gedung terbesar di pusat Manhattan, menjadi gedung ketiga yang runtuh. Tidak ada media yang memberitakannya karena gedung tersebut runtuh akibat efek domino dari runtuhnya Menara Kembar. Bukan runtuh karena ditabrak pesawat.

Dalam laporan Komisi 9/11 menyatakan: “Gedung pencakar langit ketiga yang runtuh pada 11 September diberitakan hanya seperti catatan kaki yang sepele… karena memang hampir tidak ada orang melihat runtuhnya Menara 7… Berita tentang runtuhnya Menara 7 tidak dapat ditemukan dalam surat kabar, majalah, atau pun media elektronik setelah 11 September.”

Sebuah pesan berkode dikirimkan secara online
Abu Abdul Rahman, salah satu orang yang bersekongkol di balik peristiwa 11 September, mengirimkan sebuah surat cinta yang mengandung sandi melalui Internet kepada “kekasihnya” seminggu sebelum serangan. Ternyata ia adalah rekan dari salah satu orang yang bertanggung jawab: Ramzi Binalshibh.

Pesan itu berbunyi: “Semester pertama dimulai dalam tiga minggu. Dua SMA (Menara Kembar) dan dua universitas (target-target di Washington DC) … Musim panas ini dipastikan akan panas … 19 (jumlah pembajak pesawat) sertifikat untuk empat lembaga pendidikan swasta dan empat ujian (jumlah pesawat yang digunakan). Salam untuk profesor. Selamat tinggal.”

CNN melaporkan bahwa tiga minggu sebelum 11 September 2001, empat regu ditugaskan di target-target serangan, dengan tiga diantaranya diberi kode sandi. Gedung Parlemen AS disebut “Fakultas Hukum”, Pentagon menjadi “Fakultas Seni Rupa”, dan Menara Utara dari WTC diberi kode sandi “Fakultas Tata Kota”.

Sebuah perusahaan kehilangan dua pertiga karyawannya
Perusahaan pelayanan keuangan global Cantor Fitzgerald bisa jadi merupakan badan usaha yang mendapat efek terburuk akibat serangan 9/11. Kantor pusat perusahaan tersebut yang terletak di lantai 101 sampai 105 di salah satu Menara WTC kehilangan 658 dari 960 orang karyawannya, atau dua pertiga total karyawannya.

Setelah tragedi terjadi, Direktur Utama Howard Lutnick menghubungi koleganya dan mengatakan: “Kami bisa saja menutup perusahaan dan datang ke upacara pemakaman rekan-rekan kami, atau kami bekerja lebih keras untuk membantu para keluarga yang ditinggalkan.” Dan itulah yang mereka lakukan. Sepuluh tahun kemudian, Cantor Fitzgerald menyerahkan lebih dari $ 180 juta kepada para keluarga karyawan yang tewas.

Baja reruntuhan WTC laku dijual
Akan diapakan tumpukan sisa baja sebanyak 185.101 ton di Ground Zero? Pihak berwenang AS mendaur ulangnya. Masyarakat sempat marah karena pihak berwenang menyingkirkan baja-baja itu sebelum benar-benar selesai diperiksa sebagai barang bukti. Walikota Bloomberg menanggapinya dengan mengatakan: “Jika Anda berminat untuk melihat metode dan desain konstruksnya, komputer saat ini dapat melakukannya. Melihat tumpukan rongsokan besi tidak akan memberikan Anda informasi apapun.”

Berdasarkan situs “9/11 Research”, baja-baja terbesar telah dikirim ke Cina dan India. Perusahaan Cina Baosteel membeli 50.000 ton dengan harga $ 120 per ton. Baja yang tersisa digunakan sebagai bahan material tugu peringatan yang disebar di seluruh 50 negara bagian.

Satu mesin pesawat “selamat” dari kecelakaan
Untuk menyelidiki serangan, para insinyur secara sukarela menginvestigasi struktur bangunan WTC. Menurut Agen Penanggulangan Bencana Federal (FEMA), sebuah mesin salah satu pesawat yang menabrak Menara Kembar secara mengejutkan tidak mengalami kerusakan akibat hantaman, ledakan serta runtuhnya menara.
Kapten timnas Indonesia, Bambang Pamungkas, menceritakan sebagian kisah kondisi timnas pascalaga Bahrain pekan lalu, yang berakhir dengan kekalahan 0-2.
 
Usai laga, pelatih Wim Risjbergen mengadakan jumpa pers bersama sang kapten. Namun Bambang datang sesudah pelatih berbicara. Ucapan pelatih pada saat Bepe, sapaan akrab Bambang Pamungkas, belum tiba itulah yang akhirnya menjadi kontroversi. Berikut dikisahkan sang bomber dalam situs resmi pribadinya, BambangPamungkas20.com.
Dalam perjalanan pulang dari stadion menuju hotel, tiba-tiba salah satu rekan pemain yang boleh dikatakan lumayan senior menghampiri saya dan duduk tepat di sebelah saya. Ketika itu pemain tersebut berkata:
 
Rekan:Bro,gimana nih? Masak pelatih komentar kayak gini ke media,” kata dia sambil memperlihatkan sebuah link berita di Twitter. Dalam berita tersebut kurang lebih tertulis komentar pelatih tim nasional yang berbunyi: "Ini bukan tim saya, pemain-pemain tersebut bukan pilihan saya, mereka tidak layak bermain di level internasional.”
Saya: “Ah ngawur itu Bro, perasaan gue tadi dia ngga ngomong gitu di konferensi pers, kan gue ada di sana.”
Rekan:“Tapi masak iya wartawan nulis gini tanpa ada komentar dari yang bersangkutan Bro. Kalau begini caranya pelatih nyalahin pemain dong? Kalau dia masih menjadi pelatih gue mendingan ngga usah dipanggil lagi lah.”
Seketika saya menatap rekan saya tersebut dengan seksama dan berkata: "Dengan alasan apa lo ngga mau main buat tim nasional lagi Bro..??"
 
Rekan:“Gue ngga bisa kerja sama dengan pelatih ini Bro. Habis mandi lo temenin gue ketemu dia ya, tolong terjemahin kalo gue minta ngga dipanggil saat lawan Qatar.”
Dengan nada yang sedikit lebih tinggi saya berbicara kepada rekan saya tersebut. “Bro, kalo lo mau ketemu pelatih untuk diskusi mengenai pertandingan tadi, gue akan temenin. Tetapi, kalo lo mau ketemu dia hanya untuk mengatakan bahwa lo mau mengundurkan diri, sorry Brogue ngga bisa nemenin lo, karena untuk yang satu ini gue ngga setuju dengan jalan pikiran lo.”
 
Rekan:“Tapi, apakah pantes seorang pelatih ngomong gitu Broke media? Artinya main aman sendiri lah dia.”
 
Saya:“Gue ngerti, dan untuk itu gue setuju ama lo. Tetapi reaksi lo dalam menanggapi masalah ini dengan mengundurkan diri tidak juga dapat dikatakan benar Bro. Bukan itu yang seharusnya kita lakukan.”
 
Rekan:“Ngga lah Bro, gue tetap ngga terima dengan pernyataan dia. Kalo lo ngga mau nemenin, ya sudah gue jalan sendiri.”
 
Saya:“Itu hak lo Bro, gue ngga bisa larang. Tapi lo harus inget, kita ini adalah contoh bagi generasi di bawah kita Bro, kalau semua pemain berpikiran seperti apa yg ada di kepala lo sekarang ini, siapa lagi pemain yang akan jatuh bangun main buat tim nasional Bro? Generasi di bawah kita juga akan berpikir kalo main di timnas itu bisa ke luar masuk sesukanya sendiri, dan itu salah besar Bro.”
 
Rekan:“Bukankah dia juga udah bilang kalau sebagian besar pemain bakal diganti?”
Saya:“Gue tahu itu. Bagi gue dicoret atau tidak dipanggil timnas jauh lebih terhormat dari pada kita menolak pemanggilan atau sengaja tidak datang Bro. Kita tidak pernah tahu siapa-siapa yang akan dipanggil atau dicoret. Akan tetapi sekali lagi kita tidak berhak mengatakan jika kita tidak akan datang jika memang nantinya tenaga kita masih diperlukan Bro, apapun alasannya.”
 
Rekan:“Gue tau Bro, tapi gue sangat kecewa dengan keadaan ini.”
 
Saya:“Gue rasa ngga cuma lo yang kecewa Bro. Hampir semua pemain pasti kecewa kalo memang pelatih kepala menyampaikan hal seperti yang ditulis media tadi. Lebih baik lo tenangin diri dulu lah, istirahat dulu sama keluarga, minggu depan kita bahas lagi, OK?”
Rekan:“OK, Bro!”


sumber :http://bambangpamungkas20.com/bepe/baca/artikel/timnas/2011/09/12/109/no-i-d-on-the-track-let-the-story-begin

Monday, 12 September 2011

10 TAHUN TRAGEDI 9 SEPTEMBER

New York – Rekaman antara controller, pilot dan otoritas militer selama insiden 11 September 2011 untuk pertama kalinya dirilis dalam peringatan ke-10 tragedi 9/11 tersebut.

Penggalan-penggalan percakapan radio itu sudah pernah beredar sebelumnya. Namun dokumen yang dirilis Rutgers Law Review ini dengan jelas menunjukkan apa yang terjadi saat empat pesawat dibajak untuk merubuhkan menara kembar, menyerang Pentagon dan satu terjatuh di Pennsylvania.
Rekaman dirilis dalam rangka 10 tahun peringatan tragedi yang dikenal sebagai 9/11 (nine eleven) itu. Terdengar betapa Amerika Serikat (AS) sama sekali tidak siap mengantisipasi adanya serangan teror. Pengawas lalu lintas udara (controller) berusaha keras mengerti apa yang terjadi.
Dalam satu komunikasi controller di menara kendali New York Center, ada laporan kebakaran yang terjadi di menara kembar World Trade Center. “And that’s, ah, that’s the area where we lost the airplane,” ujar si controller.
Pada saat bersamaan, seorang pilot yang tak diketahui identitasnya bertanya, “Ada yang tahu asap apa itu di Lower Manhattan?”
 
Di menara kendali Boston Center, seorang pekerja menyatakan pesawat sedang dibajak menujuk New York. “Kami membutuhkan anda untuk..Kami membutuhkan seseorang dengan F-16 atau (jet tempur) lainnya untuk membantu kami.”
 
Jawaban yang ia terima dalam komunikasi itu, menggambarkan betapa seluruh pihak terpukau dengan apa yang sedang terjadi di New York. “Is, is this real world or exercise?