TERJEMAHAN

Friday, 9 September 2011

PENYEBAB KEKALAHAN TIM GARUDA INDONESIA

Pelatih Bahrain, Peter Taylor mengaku hasil pertandingan partai kedua membuat peluang Indonesia ke putaran selanjutnya pada kualifikasi Piala Dunia zona Asia semakin sulit. Indonesia mengawali start yang tidak diinginkan.

“Start yang buruk bagi Indonesia dengan point 0,” katanya seusai pertandingan di SUGBK, Selasa (6/9/2011).

Betapa tidak, bertindak sebagai tuan rumah, Indonesia justru harus takluk dari tim Merah — julukan Bahrain — menyusul gol yang dilesakkan Sayed Dhiya pada akhir babak pertama dan Ismaeel Abdullatif Ismaeel di babak kedua.

Dengan kekalahan ini semakin menyulitkan Indonesia merangsek naik dari posisi buncit grup E dengan raihan poin 0. Sementara Bahrain menduduki puncak klasemen sementara dengan raihan 4 poin sembari menunggu hasil pertandingan grup E lainnya Qatar kontra Iran.

Lebih lanjut, mengomentari permainan anak asuhnya, pelatih asal Inggris ini memuji seluruh pemain Bahrain yang dapat menjalankan instruksinya dengan baik selama pertandingan.
“Saya sangat senang bisa menang, meski sempat kecewa karena adanya beberapa peluang tapi tidak bisa dimanfatakan dengan baik. Tapi terlepas dari itu saya  sangat memuji para pemain,” terangnya.

 PELATIH Timnas Indonesia Wim Rijsbergen merealisasikan janjinya untuk bermain menyerang saat menjamu Bahrain. Bahkan Wim menurunkan tiga striker sekaligus sejak menit awal pertandingan.

Wim memang tidak memakai formasi 4-3-3 ala Belanda, yang menjadi trade mark negeri leluhurnya sekaligus gaya yang pernah dianutnya ketika memperkuat De Oranje di Piala Dunia 1974 dan 1978 yang berakhir di posisi runner up. Mantan asisten pelatih Trinidad dan Tobago di Piala Dunia 2006 ini memilih formasi 4-2-3-1.

Ia memasang Cristian Gonzales sebagai target man. Dua striker lain, Bambang Pamungkas, bermain di belakang Gonzales, dan Boaz Solossa dimainkan sebagai winger kanan. Posisi winger kiri diisi Muhammad Ridwan.

Gelandang Firman Utina dan Ahmad Bustomi dipasang sejajar sebagai holding midfielder. Keduanya bertugas menjaga keseimbangan tim dan menyusun skema serangan.
Wim berharap serangan mengalir dari kedua winger, Ridwan dan Boaz. Keduanya diinstruksikan untuk melakukan terobosan dari sisi sayap.

Bambang berperan sebagai pembagi bola dan sesekali muncul dari second line (come from behind) untuk menyambut umpan-umpan dari Boaz maupun Ridwan.

Sayangnya strategi ini sama sekali tidak berjalan. Justru membuat permainan tidak berkembang dan lini tengah meninggalkan lubang. Akhirnya dua gol bersarang.

Yang pantas mendapat sorotan dari strategi Wim adalah keputusannya memainkan Bambang. Kenapa mesti memaksakan Bambang untuk bermain dan menggunakan formasi 4-2-3-1?
Kehadiran Bepe membuat Boaz harus bermain melebar. Ini tentunya tidak efektif. Menjauhkan jarak Boaz dengan gawang lawan bukan keputusan bijak.
Striker terbaik Indonesia ini menjadi minim kesempatan untuk melakukan akselerasi langsung ke gawang lawan. Padahal kita ketahui ia memiliki skill individu hebat dan naluri gol tinggi.

Dengan bermain di sayap kanan –padahal Boaz seorang kidal– membuat pemain Persipura Jayapura ini lebih banyak berperan sebagai pengumpan. Nyaris ia tak memiliki kesempatan untuk mencetak gol.

Akan lebih ideal Boaz dimainkan sebagai striker murni berduet dengan Gonzales di depan. Ia akan lebih berbahaya karena akan berhadapan langsung dengan pertahanan terakhir dan kiper lawan.

Di sisi lain, keputusan menurunkan Bepe dan formasi 4-2-3-1 membuat lini tengah sedikit rapuh karena hanya mengandalkan dua gelandang. Ada ruang kosong tak terisi sehingga memberi kesempatan pemain Bahrain mengembangkan permainan.

Keputusan memainkan Firman terlalu di belakang membuat perannya sebagai playmaker tak maksimal. Selama ini Firman merupakan jantung permainan. Namun akselerasinya menjadi terbatas karena ada Bambang di depannya, dan ia juga harus memikirkan membantu pertahanan.

Mungkin lebih bijak bila Wim tak memaksakan memainkan Bepe dan formasi 4-2-3-1. Pelatih Belanda ini lebih baik mengusung pola pakem 4-4-2 untuk menjaga keseimbangan tim dan berani mengorbankan Bepe.

Dengan 4-4-2 lini tengah menjadi lebih seimbang. Boaz pun bisa diduetkan dengan  Gonzales di depan sehingga lebih banyak mendapat kesempatan mengancam gawang lawan.     Pelatih yang digantikan Wim, Alfred Riedl, termasuk berhasil dengan formasi 4-4-2. Meski harus diakui level kekuatan Bahrain dengan negara-negara Asia Tenggara di Piala AFF 2010 tak sebanding, namun setidaknya strategi Riedl lebih mampu menjaga keseimbangan dan kedalaman tim.

Wajar kerinduan akan sosok Riedl –yang dipecat PSSI tanpa alasan jelas– pun mulai menghinggapi suporter Timnas Indonesia. Sebaliknya suara sumbang untuk pelengseran Wim mulai terdengar sayup-sayup.

“Ganti pelatih…ganti pelatih…!” Begitulah teriakan beberapa suporter timnas di bangku VIP saat Pasukan Garuda tertinggal 0-2 dari Bahrain dan pertandingan dihentikan menyusul hujan petasan di GBK.

Apakah  pantas Wim diganti !!

berikut jadwal pertandingan prapiala dunia 2014 grup E

2 September 2011
Iran vs Indonesia
Bahrain vs Qatar

6 September 2011
Qatar vs Iran
Indonesia vs Bahrain

11 Oktober 2011
Iran vs Bahrain
Indonesia vs Qatar

11 November 2011
Qatar vs Indonesia
Bahrain vs Iran

15 November 2011
Qatar vs Bahrain
Indonesia vs Iran

29 Februari 2012
Iran vs Qatar
Bahrain vs Indonesia

Thursday, 8 September 2011

PNS TIDAK KERJA BUKAN MASALAH

Sebagai Seorang Pegawai Negeri Sipil saya  merasa miris setelah membaca tulisan teman yang dimuat di  http://birokrasi.kompasiana.com/2011/09/07/pns-bolos-bukan-masalah/ yang isinya mengkritisi kinerja  PNS berikut tulisannya :

Senin, 5 September 2011, media massa banyak memberitakan mengenai PNS yang bolos kerja pada hari pertama kerja setelah libur lebaran. Sepertinya bukan kabar baru jika terdengar kabar mengenai PNS yang bolos kerja setelah liburan. Namun pernahkan anda bertanya seandainya para PNS itu masuk kerja tepat setelah libur lebaran kira-kira tugas apakah yang akan mereka kerjakan di kantor?

Pertanyaan tersebut akan menolong kita untuk melihat masalah manajemen kepegawaian pemerintah lebih tepat. Masalah utamanya bukan apakah PNS bolos atau tidak tetapi apakah PNS tersebut akan bekerja atau tidak. Jika seorang PNS masuk kantor namun tidak melakukan pekerjaan melainkan menghabiskan waktu untuk bermain game, ngobrol, atau baca koran tidakkah itu berarti sama saja dia bolos kerja?

Masalahnya terletak pada manajemen kepegawaian pemerintah yang buruk. Pemerintah tidak memiliki sistem yang baik dalam mengatur pegawainya. Pemerintah terlihat tidak serius dalam hal ini.

Ada beberapa masalah terkait manajemen kepegawaian pemerintah, antara lain:

1. Jumlah PNS melebihi kebutuhan
Sikap pemerintah dalam mengambil kebijakan moratorium PNS disebabkan karena hal ini. Jumlah PNS yang melebihi kebutuhan sesuai tugas yang ada mengakibatkan banyak PNS nganggur.Para PNS tersebut pada jam kerja sering terlihat shopping di pusat perbelanjaan, bermain game di komputer, baca koran atau ngobrol. Memang ada PNS yang melakukan hal tersebut karena malas namun penyebab utama adalah tugas/pekerjaan yang harus dikerjakan terlalu sedikit. Saya yakin jika para PNS tersebut memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan, mereka akan berpikir beberapa kali untuk bersantai-santai.

Di kantor-kantor pemerintahan tertentu kita bisa melihat bahwa pekerjaan untuk dikerjakan oleh satu orang namun tersedia pegawai untuk mengerjakannya sebanyak lima orang. Hasilnya pekerjaan dikerjakan satu orang dan empat lainnya menganggur atau pekerjaan dibagi lima sehingga masing-masing dapat menyelesaikannya dengan waktu hanya seperlima hari, sisa empat perlima hari digunakan untuk menganggur. Tidak jarang ada beberapa PNS yang terbiasa bekerja (rajin) sering merasa stres atau bosan dengan pola kerja seperti ini namun sebagian banyak menikmatinya (menyesuaikan diri).

Mengapa pemerintah menerima PNS dalam jumlah banyak melebihi kebutuhan? Menurut saya ada beberapa penyebab. Bagi pemerintah daerah atau kementrian/lembaga yang terbiasa melakukan bisnis “jual beli” dalam rekrutmen CPNS, penerimaan CPNS dalam jumlah banyak berarti “penjualan barang dagangan” dengan jumlah banyak, yang berati potensi memperoleh “pendapatan” lebih banyak. Alasan lain adalah memenuhi janji kampanye ketika pemilihan pilpres/pilkada (yang berarti sama saja dengan “jual beli”). Motif lain yang kelihatan baik namun tidak kalah buruk adalah untuk mengurangi tingkat pengangguran sehingga menutupi kegagalan pemerintah menciptakan lapangan kerja.

2. Sistem rekrutmen dan peningkatan karir yang tidak transparan
Seperti pada poin pertama, sistem rektutmen pegawai pemerintah dipenuhi nuansa KKN. Akibatnya, kompetensi pegawai yang lulus cenderung rendah sehingga tidak mampu mengerjakan pekerjaan kantor yang ada. Pada kondisi tersebut, sekalipun tugas yang harus dikerjakan banyak, namun pegawai yang dapat mengerjakan tugas sedikit. Sisanya nganggur.
Untuk peningkatan karir atau promosi juga sama, cenderung bernuansa KKN. Akibatnya sesorang yang memangku jabatan tertentu belum tentu mampu mengerjakan tugasnya.

3.Cara pandang PNS mengenai pekerjaan/tugas
Pejabat dan staf pada pemerintah masih melihat pekerjaan hanya sebagai tugas untuk merealisasikan anggaran. Akibatnya PNS cenderung bekerja jika ada honor/tambahan penghasilan. Pekerjaan sehari-hari/rutin menjadi pekerjaan yang tidak menarik karena tidak ada tambahan penghasilan.

4.Budaya “Asal Bapak Senang” dan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
Budaya ABS membuat PNS cenderung sibuk “menjilat” atasan dibanding menunjukkan kinerja yang baik. Seperti dibahas pada poin 2 di atas, untuk peningkatan karir, kompetensi/kinerja bukan pertimbangan utama melainkan kemampuan “ABS” dan kemampuan “beli jabatan (KKN)”. Akibatnya para PNS yang rajin dan berkinerja baik menjadi  kehilangan semangat kerja.

Selama pemerintah tidak memperbaiki cara memanage pegawainya, maka teriakan media masa akan PNS yang bolos kerja hanya akan menjadi suara yang akan menghilang.

Tuesday, 6 September 2011

SAYAP GARUDA KU PATAH LAGI

Lagi lagi 240 juta pendukung pasukan garuda harus kecewa pada pada hari ini, pasukan kita tumbang di hantam Bahrain dengan dua gol tanpa balas,  2 – 0 Bahrain vs  Indonesia. Terlebih pada  pertandingan pertama Indonesia vs iran Indonesia di cukur habis oleh iran dengan skor 3 – 0, kekalahan kali ini menipiskan harapan Indonesia melenggang ke babak selanjutnya karena berada pada penghuni juru kunci klasemen sementara grup E pra piala dunia zona asia dengan nilai nol kebobolan sebanyak lima gol, memang asa masih ada karena Indonesia masih menyisakan dua pertandingan kandang dan dua pertandingan tandang.

Sangat berat perjuangan Indonesia untuk menuju piala dunia kalau dilihat dari materi pemain yang ada disamping kalah postur tubuh dengan pemain lawan kita tidak mempunyai pemain bertahan yang  baik kekalahan kita selalu berawal dari kesalahan pemain belakang yang kurang disiplin menjaga pemain lawan. Dari hasil pertandingan yang baru berakhir pemain kita terlihat kurang mempunyai kreatifitas dalam menyerang, serangan selalu mentah hanya  mempunyai satu peluang bagus dari tendangan Bambang Pamungkas itupun masih bisa dimentahkan oleh penjaga gawang Bahrain. 

Berikut perjalanan Indonesia menuju Piala Dunia sebenarnya telah dimulai sejak Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Saat even akbar ini digelar di Prancis 1938, Indonesia dengan nama Hindia Belanda berhasil lolos ke babak utama setelah sebelumnya menang WO atas India di babak kualifikasi.

Sayang Indonesia harus tersingkir di babak pertama oleh Hungaria dengan skor telak 0-6. Sejak saat itu Indonesia tak pernah lagi melaju hingga ke putaran final even olahraga terakbar sejagad raya tersebut.

Indonesia sempat walk out pada babak kedua Pra Piala Dunia 1958. Pemicunya adalah kehadiran Israel pada grup yang dihuni Indonesia. Saat itu Tim Merah Putih mundur karena tidak mengakui kedaulatan negara Israel.
Pencapaian terbaik Indonesia adalah di Pra Piala Dunia 1986. Saat itu Indonesia termasuk dalam empat tim terbaik zona B AFC atau wilayah Asia Timur. Sayang langkah timnas dihentikan Korea Selatan dengan agregat 1-6.

Berikut Jejak Langkah Indonesia di Pra Piala Dunia :
Pra Piala Dunia 1938 (dengan nama Hindia Belanda)
Hindia Belanda vs India, menang WO langsung lolos putaran final

Putaran Final Piala Dunia 1938 Prancis
5 Juni 1938 (babak pertama) Hindia Belanda 0-6 Hungaria

Pra Piala Dunia 1958
(babak preliminary) Indonesia vs Taiwan, menang WO
Babak pertama kualifikasi AFC/CAF
Indonesia berada di grup 1 bersama Cina dan Hong Kong. Hong Kong mengundurkan diri
- 12 Mei 1957 Indonesia 2-0 China
- 2 Juni 1957 Cina 4-3 Indonesia
- 23 Juni 1957 (play off) Indonesia 0-0 China
(Indonesia lolos ke babak kedua unggul selisih gol)
- Babak kedua Indonesia segrup dengan Sudan, Mesir, dan Israel. Indonesia mengundurkan diri karena tidak mengakui kedaulatan negara Israel.

Pra Piala Dunia 1962
Indonesia satu grup dengan Korea Selatan dan Jepang, dan langsung mengundurkan diri

Pra Piala Dunia 1974
Indonesia tergabung dalam zona B grup 2 kualifikasi AFC/OFC bersama Irak, Australia, dan Selandia Baru.
- 11 Maret 1973 Indonesia 1-1 Selandia Baru
- 13 Maret 1973 Australia 2-1 Indonesia
- 16 Maret 1973 Irak 1-1 Indonesia
- 18 Maret 1973 Indonesia 1-0 Selandia Baru
- 24 Maret 1973 Australia 6-0 Indonesia
(Indonesia finish di posisi 3 dengan 4 poin hasil 1 menang, 2 imbang, 3 kalah dan gagal melaju ke babak selanjutnya)

Pra Piala Dunia 1978
Indonesia tergabung di grup 1 bersama Hong Kong, Thailand dan Singapura
- 28 Februari 1977 Indonesia 1-4 Hong Kong
- 3 Maret 1977 Indonesia 0-0 Malaysia
- 7 Maret 1977 Indonesia 2-3 Thailand
- 9 Maret 1977 Singapura 0-4 Indonesia

Pra Piala Dunia 1982
Indonesia tergabung di grup 1 zona AFC/OFC bersama Selandia Baru, Australia, Taiwan, dan Fiji.
- 11 Mei 1981 Indonesia 0-2 Selandia Baru
- 20 Mei 1981 Australia 2-0 Indonesia
- 23 Mei 1981 Selandia Baru 5-0 Indonesia
- 31 Mei 1981 Fiji 0-0 Indonesia
- 15 Juni 1981 Indonesia 1-0 Taiwan
- 28 Juni 1981 Taiwan 2-0 Indonesia
- 10 Agustus , 1981 Indonesia 3-3 Fiji
- 30 Agustus 1981 Indonesia 1-0 Australia
(Indonesia finish di posisi 3 dengan 6 poin hasil 2 menang, 2 seri, 4 kalah dan gagal melaju ke babak selanjutnya)

Pra Piala Dunia 1986
Babak pertama, Indonesia tergabung dalam grup 3B AFC Zona B bersama India, Thailand, Bangladesh
- 15 Maret 1985 Indonesia 1-0 Thailand
- 18 Maret 1985 Indonesia 2-0 Bangladesh
- 21 Maret 1985 Indonesia 2-1 India
- 29 Maret 1985 Thailand 0-1 Indonesia
- 2 April 1985 Bangladesh 2-1 Indonesia
- 6 April 1985 India 1-1 Indonesia
Indonesia lolos ke babak kedua sebagai juara grup dengan 9 poin. Di babak kedua, yang merupakan empat tim terbaik Asia Timur, Indonesia bertemu Korea Selatan dengan format kandang-tandang.
- 21 Juli 1985 Korea Selatan 2-0 Indonesia
- 30 Juli 1985 Indonesia 1-4 Korea Selatan
- Korea Selatan lolos, agregat 6-1

Pra Piala Dunia 1990
Babak pertama Indonesia tergabung dalam grup 6 zona AFC bersama Korea Utara, Jepang, dan Hong Kong
- 21 Mei, 1989 Indonesia 0-0 Korea Utara
- 28 Mei 1989 Indonesia 0-0 Japan
- 4 Juni 1989 Hong Kong 1-1 Indonesia
- 11 Juni 1989 Japan 5-0 Indonesia
- 25 Juni 1989 Indonesia 3-2 Hong Kong
- 9 Juli 1989 Korea Utara 2-1 Indonesia
Indonesia finish di posisi 3 dan gagal melangkah ke babak selanjutnya

Pra Piala Dunia 1994
Babak pertama Indonesia bergabung dengan Korea Utara, Qatar, Singapura, dan Vietnam dalam grup C zona AFC
- 9 April 1993 Qatar 3-1 Indonesia
- 13 April 1993 Indonesia 0-4 Korea Utara
- 16 April 1993 Indonesia 0-1 Vietnam
- 18 April 1993 Indonesia 0-2 Singapura
- 24 April 1993 Indonesia 1-4 Qatar
- 28 April 1993 Indonesia 1-2 Korea Utara
- 30 April 1993 Indonesia 2-1 Vietnam
- 2 Mei 1993 Singapura 2-1 Indonesia
Indonesia finish di posisi 4 dan gagal melaju ke babak selanjutnya

Pra Piala Dunia 1998
Indonesia tergabung dalam grup 5 zona AFC bersama Uzbekistan, Yaman, dan Kamboja
- 6 April 1997 Indonesia 8-0 Kamboja
- 13 April 1997 Indonesia 0-0 Yaman
- 27 April 1997 Kamboja 1-1 Indonesia
- 1 Juni 1998 Indonesia 1-1 Uzbekistan
- 13 Juni 1997 Yaman 1-1 Indonesia
- 20 Juni 1997 Uzbekistan 3-0 Indonesia
Indonesia finish di posisi 3 dan gagal melaju ke babak selanjutnya

Pra Piala Dunia 2002
Indonesia tergabung di grup 9 bersama Cina, Maladewa , dan Kamboja
- 8 April 2001 Indonesia 5-0 Maladewa
- 22 April 2001 Indonesia 6-0 Kamboja
- 29 April 2001 Kamboja 0-2 Indonesia
- 6 Mei 2001 Maladewa 0-2 Indonesia
- 13 Mei 2001 China 5-1 Indonesia
- 27 Mei 2001 Indonesia 0-2 China
Indonesia finish di posisi 2 dan gagal melaju ke babak selanjutnya

Pra Piala Dunia 2006
Indonesia langsung lolos ke babak kedua, tergabung di grup 8 bersama Arab Saudi, Turkmenistan, dan Sri Lanka
- 18 Februari 2004 Arab Saudi 3-0 Indonesia
- 31 Maret 2004 Turkmenistan 3-1 Indonesia
- 9 Juni 2004 Indonesia 1-0 Sri Lanka
- 8 September 2004 Sri Lanka 2-2 Indonesia
- 12 Oktober 2004 Indonesia 1-3 Arab Saudi
- 17 November 2004 Indonesia 3-1 Turkmenistan
Indonesia finish di posisi 3 dan gagal melaju ke babak selanjutnya

Pra Piala Dunia 2010
Babak pertama, Indonesia menang WO melawan Guam
Babak kedua, Indonesia bertemu Suriah dalam format kandang-tandang
- 9 November 2007 Indonesia 1-4 Suriah
- 18 November 2007 Suriah 7-0 Indonesia
- Suriah lolos ke babak ketiga, agregat 11-1

Pra Piala Dunia 2014
Indonesia langsung lolos babak kedua dan berjumpa Turkmenistan dalam format kandang-tandang
- 23 Juli 2011 Turkmenistan 1-1 Indonesia
- 28 Juli 2011 Indonesia 4-3 Turkmenistan

Sekarang Indonesia lolos ke Babak tiga yang berada pada grup E dengan dua kali kekalahan:
-       Iran VS Indonesia   3 – 0
-       Indonesia VS Bahrain 0 -2
Berada  didasar klasemen dengan nilai nol dan kebobolan sebanyak 5 gol.

Semoga ini menjadi tolak ukur kemajuan persepakbolaan Indonesia untuk menuju perestasi yag lebih baik, hidup garuda ku Merdeka !!!!!!!!!!!!!!