TERJEMAHAN

Thursday, 9 December 2010

PERLUKAH HARI KORUPSI DI PERINGATI

Pada hari ini tepatnya tanggal 9 Desember 2010, di beberapa kota di indonesia terjadi demontrasi - demontrasi  yang menentang korupsi, mulai dari mahasiswa, lembaga-lembaga baik pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga masyarakat umum. melakukan demontrasi yang mendesak pemerintah untuk lebih serius melakukan pemberantasan korupsi,


Jakarta : Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia dimulai sekitar pukul 10.00 WIB di halaman Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (9/12). Peringatan ini dihadiri ratusan penggiat antikorupsi yang juga diisi sambutan sejumlah tokoh, antara lain Teten Marzuki, Wakil Ketua KPK M Yasin, dan aktivis akntikorupsi lainya seperti dari Uni Eropa dan UNODC.

Acara yang bertema "Tanpa Korupsi Baru Indonesia" itu kemudian dilanjutkan dengan karnaval menuju Bundaran HI dengan mengarak tarian barongsai dan kendaraan. Aksi juga dimeriahkan berbagai acara menarik, seperti arak-arakan replika Gayus HP Tambunan, lengkap dengan raket tenis, olahraga yang konon digemari pegawai Direktorat Jenderal Pajak itu.(ADO).

Samarinda : Demonstrasi digelar 500 orang Laskar Anti Korupsi Indonesia (LAKI) dan 10 elemen mahasiswa Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), menyambut hari Antikorupsi se-dunia. Aksi yang digelar di kantor Kejaksaan Tinggi Kaltim itu berujung keributan.

Kamis (9/12/2010), kericuhan yang terjadi di depan gerbang masuk Kejati Kaltim berawal dari orasi dan nyanyian mahasiswa. Nyanyian mereka dinilai telah melecehkan aparat kepolisian yang bertugas.


Makasar : Kamis (9/12/2010), aksi tersebut dilakukan sekita pukul 11.30 WIB. Dan bentrok itu dipicu saat ratusan mahasiswa mendesak untuk masuk ke kantor Gubernur Sulawesi Selatan.

Keinginan mahasiswa itu langsung dihadang oleh aparat kepolisian dari Pasukan Huru-Hara (PHH) yang memang sudah berjaga-jaga sejak pagi. Selanjutnya tanpa dikomando tiba-tiba terjadi saling lempar batu antara polisi dan mahasiswa.

Bahkan polisi melepaskan gas air mata untuk membubarkan aksi tersebut. Namun tindakan polisi itu makin membuat mahasiswa tidak membubarkan diri, sebaliknya mahasiswa masih terus melakukan perlawanan.

Akibatnya sejumlah mahasiswa harus dilarikan ke rumah sakit. Dan sampai berita ini diturunkan, bentrokan masih terus berlangsung.

Itulah gambaran aksi - aksi anarkis dan damai yang di pertontontankan  sejumlah eleman masyarakat yang katanya bertujuan untuk membersihkan negeri ini hingga terlepas dari tindak kejahatan korupsi yang dilakukan oleh pihak - pihak atau oknum yang tidak bertanggungjawab. akankah dengan peringatan hari anti korupsi seperti ini akan mengurangi atau memberantas kourpsi ?  

Wednesday, 8 December 2010

PENGERTIAN KORUPSI DAN BERBAGAI JENISNYA


Secara Bahasa: "korupsi" berasal dari bahasa Inggris, yaitu corrupt, yang berasal dari perpaduan dua kata dalam bahasa latin yaitu com yang berarti bersama-sama dan rumpere yang berarti pecah atau jebol. Istilah "korupsi" juga bisa dinyatakan sebagai suatu perbuatan tidak jujur atau penyelewengan yang dilakukan karena adanya suatu pemberian. Dalam prakteknya, korupsi lebih dikenal sebagai menerima uang yang ada hubungannya dengan jabatan tanpa ada catatan administrasinya.

KORUPSI adalah bagian dalam kehidupan bangsa Indonesia yang tak pernah habis ceritanya. Mental korupsi terus bersemayam dalam diri sebagian oknum masyarakat Indonesia dan mengiringi gerak langkah dalam membangun Negara Indonesia.

Dalam UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi. Tindak pidana korupsi dirumuskan dalam 30 bentuk/jenis.  Ketigapuluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi tersebut  dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Kerugian keuangan negara
2. Suap-menyuap
3. Penggelapan dalam jabatan
4. Pemerasan
5. Perbuatan curang
6. Benturan kepentingan dalam pengadaan
7. Gratifikasi

Selain bentuk/jenis tindak pidana korupsi diatas, masih ada tindak
pidana lain yang yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi yang tertuang pada UU No.3 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001. Jenis tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi itu adalah:

1. Merintangi proses pemeriksaan perkara korupsi
2. Tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar
3. Bank yang tidak memberikan keterangan rekening tersangka
4. Saksi atau ahli yang tidak memberi keterangan atau memberi keterangan palsu
5. Orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau memberikan keterangan palsu
6. Saksi yang membuka identitas pelapor

Dalam Tool Kit Anti Korupsi yang dikembangkan oleh PBB dibawah naungan Centre of International Crime Prevention (CICP) dari UN Office Drug Control And Crime Prevention (UN-ODCCP), dipublikasikan 10 bentuk tindakan korupsi, yaitu :
skema-korupsi
1.    Pemberian Suap / Sogok (Bribery)
Pemberian dalam bentuk uang, barang, fasilitas dan janji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan yang berakibat membawa untung terhadap diri sendiri atau pihak lain yang berhububgan dengan jabatan yang dipegangnya pada saat itu
2.     Penggelapan (Embezzlement)
Perbuatan mengambil tanpa hak oleh seorang yang telah diberi kewenangan untuk mengawasi dan bertanggungjawab penuh terhadap barang milik Negara oleh pejabat public maupun swasta
3.     Pemalsuan (Fraud)
Suatu tindakan atau prilaku untuk mengelabui orang lain atau organisasi dengan maksud untuk keuntungan dan kepentingan dirinya sendiri maupun orang lain
4  .   Pemerasan (extortion)
Memaksa seseorang untuk membayar atau memebrikan sejumlah uang atau barang atau bentuk lain sebagai ganti dari seorang pejabat public untuik berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Perbuatan tersebut dapat diikuti dengan ancaman fisik ataupun kekerasan
5.    Penyalahgunaan Jabatan/Wewenang (abuse of  Discretion)
Mempergunakan kewenangan yang dimiliki untuk melakukan tindakan yang memihak atau pilih kasih kepada kelompok atau perseorangan sementara bersikap diskriminatif terhadap kelompok atau perseorangan lainnya
6. Pertentangan Kepentingan/Memiliki Usaha Sendiri (Internal Trading)
Melakukan transaksi public dengan menggunakan perusahaan milik pribadi atau keluarga dengan cara mempergunakan kesempatan dan jabatan yang dimilikinya untuk memenangkan kontrak pemerintah
7.     Pilih Kasih (Favoritisme)
Memberikan pelayanan yang berbeda berdasarkan alasan hubungan keluarga, afiliasi partai politik, suku, agama dan golongan yang bukan kepada alasan objektif seperti kemampuan, kualitas, rendahnya harga, profesionalisme kerja.
8. Menerima Komisi (Commission)
Pejabat Publik yang menerima sesuatu yang bernilai dalam bentuk uang, saham, fasilitas, barang dll sebagai syarat untuk memperoleh pekerjaan atau hubungan bisnis dengan pemerintah
9. Nepotisme (Nepotism)
Tindakan untuk mendahulukan sanak keluarga, kawan dekat, anggota partai politik yang sepaham, dalam penunjukan atau pengangkatan staf, panitia pelelangan atau pemilihan pemenang lelang
10. Kontribusi atau Sumbangan Ilegal (Ilegal Contribution)
Hal ini terjadi apabila partai politik atau pemerintah yang sedang berkuasa pada waktu itu menerima sejumlah dana sebagai suatu kontribusi dari hasil yang dibebankan kepada kontrak-kontrak pemerintah.

Demikianlah 10 jenis tindak pidana korupsi, sudah bisa kita simpulkan bahwa tindakan man a masuk pada nomor yang mana, tetapi jika dilihat dengan aspek pemanfaatan yang bukan untuk kepentingan pribadi atau memperkaya diri sendiri dan kelompok, maka hal tersebut bisa saja dilakukan. Asalkan dalam proses pengadaan seragam tidak terjadi mengelapan dana atau mark up harga. Itu namanya diakali dua kali. Yang sudah benar malah jadi tidak benar

Monday, 6 December 2010

AKU BANGGA PUNYA AYAH SEORANG KORUPTOR

Kata orang hidup adalah pilihan. Awalnya aku tak percaya kata-kata itu. Sebelum akhirnya membuktikan kebenarannya. Kebenaran tentang hidup yang ternyata bukanlah sebuah pilihan. Kenapa? karena kita sudah dipilih atau terpilih menjadi seseorang. Seperti aku ini, yang terlahir sebagai anak seorang Koruptor.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZDY4hmhVsCxwTPj_qWzFN9epUEbNGWtx_7FZhPYOPbSljoLQBKfXJZN1YtwEB0_l6oBOTlzHSBeREtLpWsq-z0oM7BB5R6GqNlXA0OX215n_m3AKk06Hlrbsz_xAn7N9DmIhqRvV0v60/s400/1121856015KoruptorKakap.jpg
Sejak kecil, aku diperlakukan seperti anak raja. Semua yang aku butuhkan, selalu disediakan oleh kacung-kacung bergaji murah. Satu juta rupiah sebulan termasuk murah bukan? Ya, harga segitu buat keluargaku tidak ada apa-apanya kale! Whatever lah! Yang pasti, dengan gaji segitu mereka -kacung-kacung itu- selalu siap dengan perintahku. Ketika aku lapar, hidangan mewah selalu tersedia di meja bundar, yang terbuat dari kayu jati itu. Mulai dari ayam ala Kentucky sampai babi panggang. Ketika aku haus, minuman aneka rupa dan aneka rasa, berjajar di mini bar yang ada di ruang tengah.
”Yusril!” teriakku memanggil nama seorang kepala kacung yang namanya mengingatkaku pada nama seorang mantan menteri.
Dalem, Den,” sambut Yusril sambil berlari kecil ke arahku.
Begitu jarak kami tiga meter, Yusril langsung merendahkan badannya dan memberi hormat padaku. Sebuah hormat ala Jepang. Setelah memberi hormat, ia merangkak, mendekat ke arahku. Apa yang dilakukan Yusril, memang sudah menjadi adat istiadat keluargaku sejak dahulu kala. Itulah cara Yusril dan kacung-kacungku yang lain dalam menghormati kami. Persis seperti Abdi Dalem kala menghadap paduka Raja.
Aku dan keluarga memang harus menjaga jarak dengan para kacung. Mengertilah wahai teman-temanku, strata kami berbeda. Kami ini jauh tinggi di langit, sedang mereka jauh berada di bawah bumi. Kami juga diajari untuk selalu dilayani bukan melayani. Jadi jangan heran kalo istilah ”melayani” sangat langka dalam kehidupan kami. Melayani cukup dilakukan oleh kacung. Tak ada istilah dalam lingkungan keluargaku.
Bukan cuma makan dan minum yang harus dilayani oleh kacung-kacung. Ketika aku ingin pup, seorang kacung dengan sigap menyiapkan tangannya untuk menceboki pantat kami yang ada bekas kotoran. Ketika kami ingin ML, kacung kami juga ready to search wanita-wanita yang siap untuk kami ML-kan. Termasuk menyediakan kondom-kondom aneka rupa. Ada yang rasa cokelat, stawberry, durian, mangga, pisang, jambu, sate padang, nasi gila, roti bakar edi, dan rasa-rasa lain.
Maybe I was a bit spoiled. I made it because the circumstance that my Father used to do”.
Kelihatannya keluarga kami memang aneh. Kelihatannya apa yang kami kerjakan menyalahi formalitas yang berlaku di masyarakat. Namun itulah kebiasaan kami. Kebiasaan yang sudah menjadi sebuah format kewajaran. Oh iya, bicara soal kewajaran, buat orangtua kami, apa yang dianggap tidak wajar oleh banyak orang, justru menjadi hal yang lumrah. Misalnya, menitip fee dari pemenang tender, memberi izin Pengusaha-Pengusaha yang menebang kayu tanpa lewat prosedur, menyelundupkan hewan-hewan yang dilindungi, dan masih banyak lagi.
Beberapa kali, aku sempat mendengar Ayahku berbicara dengan Adrian Kiki Ariawan. Kenal dong siapa pria ini? Dia buronan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang tempo hari ditangkap oleh pemerintah Australia atas kerjasama dengan Kejaksaan Agung (Kejagung). Dia adalah salah satu orang berdarah dingin yang membuat Pemerintah jadi kehilangan uang. Padahal uang itu bisa dipergunakan untuk banyak hal, termasuk menyekolahkan anak-anak putus sekolah, atau memberi makan keluarga-keluarga kelaparan.
Ayahku juga sempat terlibat pembicaraan dengan tujuh Kepala Yayasan (Dakab, Amal Bakti Muslim Pancasila, Supersemar, Dana Sejahtera Mandiri, Gotong Royong, dan Trikora) soal dana Rp 1,4 triliun. Ayahku juga tahu soal korupsi dalam Tecnical Assintance Contract (TAC) antara Pertamina dengan PT Ustaindo Petro Gas (UPG) tahun 1993 yang meliputi 4 kontrak pengeboran sumur minyak di Pendoko, Prabumulih, Jatibarang, dan Bunyu yang berhasil merugikan negara senilai US $ 24.8 juta. Ayahku pun tahu penyimpangan penyaluran dana BLBI senilai Rp 138,4 triliun dari total dana senilai Rp 144,5 triliun serta penyelewengan penggunaan dana BLBI yang diterima 48 bank sebesar Rp 80,4 triliun. Last but not least, Ayahku sempat berhubungan dengan Joko S. Tjandra sebelum kabur.
Pembicaraan Ayahku dengan para koruptor itu kencang sekali. Hampir seisi rumah mendengar. Padahal pembicaraan itu sangat sensitif yang sebenarnya aku tak perlu mendengarkannya. Yang sebenarnya sangat-sangat mengajarkan hal-hal negatif. Tapi Ayahku cuek. Ayahku tak peduli apakah aku nantinya akan mengikuti jejaknya atau malah menjadi pembelot. Bayangkan, apakah wajar seorang Ayah bicara soal sogok-menyogot, tipu-menipu, bahkan bunuh-membunuh didengar oleh anak seperti diriku yang keren ini. Namun, sekali lagi, hal seperti ini sudah lumrah, sudah wajar di keluarga kami.
Mungkin Anda pikir, aku beruntung memiliki kehidupan yang luar biasa. Kehidupan yang semua manusia ingin mendapatkannya. Kehidupan yang selalu dibayangkan oleh banyak orang, dimana orang-orang ini terus mengejarnya dengan cara berkompetisi. Mungkin perasaan Anda, aku tak akan pernah merasakan kepedihan dalam mengarungi kehidupan sesungguhnya. Tak pernah ada tangis. Tak pernah ada kekecewaan. Semuanya happy. Boleh jadi benar!
Aku cukup beruntung. Ya, aku beruntung. Aku bersyukur dengan apa yang telah aku miliki, meski aku tahu harta ini didapat ini dari cara korupsi yang Ayahku selalu lakukan. Anda tak perlu tahu korupsi model apa yang sudah dilakukannya. Pokoknya aneka cara sudah dia lakukan. Dan aku tahu, Ayahku tidak akan pernah menyesal ataupun merasa bersalah, ketika apa orang yang mempertanyakan kehalalan semua harta benda tesebut.
”Ah tahu apa kalian tentang halal?” kata Ayahku suatu hari, ketika seorang jurnalis bertanya soal asal usul pendapatannya.
”Halal itu relatif! Menurut Ulama haram, kalo menurut saya halal, Anda mau bilang apa?”
Jurnalis bingung.
”Kenapa yang mendapatkan cap halal haram selalu sesuatu yang nggak penting? Rokok, misalnya. Atau soal infotainment dan yoga yang juga dianggap haram. Terakhir soal Facebook yang juga dikatagorikan haram. Aya-aya wae! Kenapa semua minuman keras tidak dicap haram di botolnya? Kenapa rumah-rumah prostitusi tidak diberikan bilboard bertuliskan haram? Masih banyak contoh lagi yang tidak bisa jabarkan satu per satu. Intinya halal haram itu relatif”.
Jurnalis mengangguk. Bukan karena mengerti, tapi makin bingung.
”Lagipula Ulama-ulama itu kan juga manusia. Mereka bisa membuat halal atau haram berdasarkan pesanan seseorang, kok! Asal ada duitnya….”
Aku memang cukup beruntung, tapi aku bosan. Aku bosan dengan kondisiku sekarang. Semua serba enak. Tak ada yang tak mungkin. Semua bisa dilakukan oleh keluarga kami. Semuanya mudah aku dapatkan. Tinggal minta, pasti tersedia. Tinggal tunjuk, semua beres. Inilah yang membuatku merasa tak ada tantangan.
Yap! Tantangan! Itulah kata kunci. Sebagai pria, aku memang butuh itu, butuh tantangan, agar eksistensiku bisa terekspos. Bahwa aku adalah survivor! Mampu berdiri dengan segala kekurangan. Bukankah aku masih menjadi lelaki jantan?
”Ayah, mulai besok saya akan kabur dari rumah ini,” ucapku pada Ayah someday and somewhere.
Aku bingung, Ayahku tak shock. Dia tak memperlihatkan kekagetan dengan ucapanku itu. Responnya dingin-dingin saja. Kok bisa? Kok seorang Ayah yang selama ini aku bangga-banggakan ternyata tidak berusaha menahanku agar tidak pergi dari rumahku. Ayah yang selama ini mengasihiku, menyayangiku, dan memanjakanku dengan aneka materi, kok cuma bereaksi dingin atas permintaanku itu. Ketidakheranan Ayahku membuatku malah semakin menggebu untuk kabur dari rumahku.
”Kapan kamu mau keluar dari rumah ini?”
”Mulai besok Ayah,” jawabku masih dalam kondisi bingung dengan sikap Ayahku.
”Kenapa nggak sekarang saja?”
Pernyataanya Ayahku itu makin membuatku terpojok. Membuat aku marah. Sebab, aku merasa kaburnya aku seperti sudah dinanti-nantikan Ayahku. Kenapa begitu? Aku merasa tak dianggap. Aku jadi berpikir macam-macam. Jangan-jangan aku bukan anak kandungnya? Jangan-jangan kasih sayang Ayahku selama ini cuma basa-basi?
”Baik Ayah! Mulai hari ini saya keluar dari rumah ini!”
Aku kabur tanpa cium tangan. Tanpa cipika-cipiki. Kalian sudah tahu jawabannya. Itu karena aku merasa direndahkan oleh Ayahku. Karena aku merasa tak dianggap olehnya. Aku sakit hati. Kata Meggy Z, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Padahal yang namanya sakit, ya tetap aja sakit. Mau sakit gigi kek, sakit hati kek, ya tetap aja sakit. Tapi aku harus kuat. Harus tegar. Bukankah ini termasuk bagian dari ujian pertamaku sebagai manusia normal yang akan kulakukan di luar rumah? Ujian pertama dari anak Koruptor yang selama ini hidup di comfort zone?
What am I supposed to do?”
Aku belum pernah merasakan keadaan yang menyedihkan ini. Menjadi orang miskin. Tak punya uang. Tidur di bawah kolong jembatan, kehujanan, dan tanpa uang sepersen pun. Aku juga belum pernah merasakan berdesak-desakan di kendaraan umum. Saling serobot tanpa atrean. Mencium keringat anekarasa di Metromini, di Mayasari Bakti. Belum pernah mencium udara kota besar yang sudah berpolusi dan berkeringat karena terkena sinar matahari.
Kini hembusan angin menusuk-nusuk dinding tubuhku. Hari ini hujan disertai oleh angin badai.
Dingin sekali. Rasa dingin kini membuat perutku keroncongan. Aku lapar! Kenapa kok aku mulai lemah? Kenapa kok aku mulai mempertanyaakan kekuatanku menghadapi ujian-ujian ini? Padahal banyak orang yang sudah terbiasa dengan kondisi ini. Tak makan seharian. Berpanas-panasan di hujani terik matahari. Kehujanan. Lihatlah Pengemis-Pengemis itu! Mereka di jalanan tak peduli panas, hujan terus mengetuk-ngetukan kaca mobil. Tengoklah Pengamen-Pengamen cilik itu. Mereka tanpa lelah bernyanyi dari mobil ke mobil, meski tak setiap mobil memberikan uang recehan. Tapi kenapa aku kalah? Kalah dengan mereka!
It is tough for me, because the circumstance want me to survive alone. I know I’m young that never do this way. Find money and the way to live”.
Ternyata aku bukan seorang suvivor. Ternyata aku pria yang mudah putus asa. Ternyata aku pria yang lebih suka dihormati atau dilayani layaknya raja. Lebih tepatnya gila hormat. Ternyata jauh lebih enak menjadi orang kaya dan hidup serba ada, seperti kehidupanku sebelumnya. Ngapain juga hidup bersama 34,96 juta orang miskin di tanah air ini? Najis! Dalam kondisi depresi seperti ini, aku kangen Ayahku. Aku juga kangen dengan kacung-kacungku. Kalau saja ada BlackBerry, akan kuhubungi Ayahku sekarang. Aku akan minta maaf dan mengatakan padanya:
”Ayahku yang kucinta, aku bangga punya orangtua seperti Ayah. I will always support what you do that, till dead do us part. Aku bangga pada Ayah, meski Ayah seorang Koruptor”.
Sumber : Zona 
Yang perlu kita renungkan adalah mau jadi siapakah kita, mau jadi orang baik atau mau jadi orang jahat, terserah anda,  tapi banyak orang yang ingin jadi orang kaya dengan cara yang kurang wajar alias melalui jalan haram, salah satunya mengkorupsi uang rakyat. mengkurupsi uang negara,  mengkorupsi uang yayasan, yang lebih parah mengkorupsi uang mesjid dan juga mengkorupsi uang - uang lainya. ibarat kata maling, tapi maling dengan cara halus, maling berdasi yang jarang tersentuh hukum, beda dengan masyarakat maling ayam atau maling lainnya  yang nilainya kecil selalu di tangkap polisi dan digebuki hingga hampir mati.  Renungkahlah

KISAH 10 HARI DI PENJARA KASUS KORUPSI YANG IDEALIS

1. Hari Pertama
Setelah mengisi urusan administrasi dan bla-bla-bla lainnya, akhirnya ia masuk ke dalam penjara yang tenar seantero negeri ini. Tak ada rasa bangga yang menyusup ke dalam dadanya. Tentu saja, mana mungkin ia berbesar hati masuk ke tempat itu, apalagi sebagai pesakitan.
Ia jadi pesakitan setelah mendapat keputusan tetap dari pengadilan. Namun ia tidak mengerti mengapa vonis hakim begitu berat padanya. Padahal banyak fakta janggal yang begitu saja ditelan oleh majelis itu. Mereka mengabaikan begitu saja fakta yang mengungkap ketidak-terlibatannya. Tapi apa daya sekarang, sudah terlambat. Pengajuan bandingya selalu dimentahkan. Bahkan vonisnya semakin diperberat.
Dan karena itu pula, rasanya tak salah jika ia ingin mengutuk hari ini, namun tak jadi ia lakukan. Ia berpikir Tuhan pasti punya rencana yang terbaik buatnya. Untuk itu, ia hanya menunggu dari pelaksanaan rencana itu.

2. Hari Kedua
Hari berikutnya pun tiba, ia mulai dilanda kebosanan. Bukannya bosan karena diperlakukan yang katanya “untuk pemanusiaan kembali”. Lebih karena ia jenuh, tak bisa melakukan kerjaan hariannya yang ditunggangi oleh berbagai kepentingan.
Kepentingan yang salah satunya katanya pesanan dari Sang Bapak. Padahal saat ketemu Sang Bapak, Sang Bapak tak pernah kelihatan memesan hal yang begituan. Sang Bapak begitu bijak dan layak dijadikan panutan. Ia berpikir jangan-jangan ini hanya akal-akalan orang-orang di sekitar Sang Bapak atau memang Sang Bapak punya kepribadian lain yang sungguh belum pernah ia jumpai. Jika memang benar begitu, ia tak ingin menyebut Sang Bapak orang yang munafik, ia menganggap Sang Bapak mungkin sedang khilaf belaka.

3. Hari Ketiga
Karena letih dengan kebosanan tersebut, mendadak kondisi dirinya menjadi drop. Terpaksalah ia dirawat klinik penjara itu. Jangan dikira fasilitasnya lengkap dan ada AC-nya. Ada obatnya saja itu sebuah syukur yang teramat hebat.
Tapi ia tak mempedulikan hal itu. Yang diinginkannya ialah ingin membunuh kebosanan itu. Ia berusaha berpikir keras, bagaimana cara melakukannya. Ia tak mengindahkan nasehat dokter agar tak perlu banyak pikiran. Karena dalam benaknya protes, mana mungkin orang dilarang berpikir. Bukankah manusia hidup itu harus berpikir, jika tak berpikir apakah ia layak dikatakan manusia? Pertanyaan itu berkecamuk terus di otaknya.
Tiba-tiba terbetik perasaan ingin mencaci dokter itu. Bisa-bisanya seorang dokter berani melarang orang berpikir, penguasa yang tiran saja tidak ada yang melakukannya. Paling banter yang dikerjakannya hanyalah menyumpal mulut para demonstran dengan semprotan dan sogokan.
Sogokan, ia jadi teringat kata itu. Bukankah ia dimasukkan ke penjara ini gara-gara itu? Sogokan atau bahasa akademik-legal formilnya adalah gratifikasi itulah yang didakwakan padanya. Ia tak mengerti para pendahulunya juga mendapatkannya secara terang-terangan tapi mengapa tidak ditangkap dan dipenjara seperti dirinya. Hukum yang aneh, kata itu, meluncur keluar begitu saja dari mulutnya yang sedikit terlihat pucat.

4. Hari Keempat
Tempat tidur di klinik itu memang lebih sedikit mendingan dibandingkan di dalam sel. Namun itu tetap tak menyenangkan hatinya. Ia ingin saja segera keluar dari tempat itu saja.
Ia pun meminta dokter untuk mengijinkannya kembali ke sel. Tapi apa kata dokter? Dokternya berkata ia harus tinggal minimal di klinik tiga hari, itu sudah prosedur.
Daripada berdebat dengan dokter itu, ia pun menganggukan kepalanya. Walaupun ia merasa sudah kembali seperti sediakala.
Makanya jadilah ia akan menempuh 1 hari selanjutnya di sini. Dan lagi-lagi ia berpikir, kapan saya tidak tinggal di tempat yang dipenuhi oleh kata prosedur?

5. Hari Kelima
Datanglah hari kelima, ia begitu suka cita sekali. Seperti anak umur 5 tahun yang sedang merayakan ulang tahunnya.
Sampai di selnya ia menari-nari, berjoget-joget menyanyikan lagu yang tak karuan liriknya. Tetangga sebelah selnya berteriak keras padanya, sambil bertanya mengapa ia berkelakuan seperti orang gila.
Ia menjawab sedang merayakan kebebasannya. ”Mana mungkin kau bebas?”, tanya tetangganya itu. ”Bukankah kau baru masuk 5 hari ini?”, imbuhnya. ”Kamu jangan salah paham, aku merayakan hari ini, karena aku sudah dinyatakan sembuh oleh dokter”, balasnya. ”Tapi bukankah itu hal yang biasa saja”, tanyanya lagi. ”Ini bukan hal yang biasa, ini hal yang luar biasa. Sepanjang hidupku baru kali ini saja aku sakit. Tentunya senang dong sudah sehat lagi”, ujarnya.
”Aneh”, gumam tetangganya itu. ”Mengapa kamu sebut aku aneh?”, tanyanya menyelidik. ”Kau tidak seperti lumrahnya koruptor lainnya. Mereka selalu punya dalih sakit, sehingga aparat hukum merasa kasihan dan ditempatkan di hunian yang layak.” ”Kamu benar, aku bukan seperti mereka. Aku tak pernah punya cadangan sakit, koleksi penyakit atau apalah namanya. Mungkin ini bisa saja terjadi, karena aku bukanlah koruptor. Kalau koruptor sejati pastilah punya itu”, jawabnya.
”O begitu. Tapi jika tak punya, mengapa kau harus masuk penjara ini?”, sahut tetangganya. ”Itu hanyalah karena kesalahan prosedur”, cetusnya. Dan pembicaraan itu pun terhenti, saat petugas datang dan mengajak tetangganya itu keluar.

6. Hari Keenam
Pagi ini ia teringat dengan pembicaraan dengan tetangga selnya. Ia teringat ketika ia berkata tentang prosedur. Prosedur yang telah menjejalkan dirinya masuk ke dalam penjara ini.
Saat ia asyik dengan pikiran itu, tetangganya menegur dari sebelah tembok selnya. ”Kau lagi ngapain?”, tanya tetangganya itu. ”Aku sedang berpikir”, jawabnya. ”Untuk apa kau berpikir, bukankah kita cuma menunggui nasib?”, ungkapnya. ”Kamu seperti dokter di klinik itu, suka melarang aku untuk berpikir”, kecamnya. ”Di sini yang diperlukan hanyalah kemampuan bersikap”, balasnya dengan ketus. Aku diam saja, tak mau membalasnya lagi.
Tiba-tiba tetangganya itu bertanya, ”Maukah kau mendengarkan sebuah cerita dariku?” ”Dengan perasaan malas ia menjawab, "Ya”. ”Dengarkan ya! Pada suatu hari, di sebuah negeri, ada seorang gubernur. Sebut saja namanya Pak Azis. Pak Azis ini berbeda dengan para gubernur di sana yang bergelimang kemewahan, ia malah berkarib dengan kemelaratan. Sehingga tak menunjukkan kepangkatannya yang tinggi itu. Dan suatu malam, ada seorang tamu yang datang ke rumahnya. Bertanyalah ia, urusan bertamu tersebut berhubungan dengan negara atau pribadi. Tamu itu menjawab, ia datang karena urusan pribadi. Kalau urusan pribadi, lampunya tidak saya nyalakan kata Pak Azis. Setelah itu disuruhlah itu masuk ke dalam ruangannya yang gelap, tamu itu bertanya mengapa. Pak Azis berkata ia tidak mau menggunakan lampu itu kepentingan pribadi, karena lampu itu berasal dari uang rakyat. Demikianlah ceritanya, apakah kau tahu maksudnya?”, tanya tetangganya itu. ”Ya”, jawabku dengan pelan.

7. Hari Ketujuh
Ia jadi kepikiran dengan cerita orang itu. Ia merasa cerita itu menyindir dirinya dengan telak.
Sindiran itu telah menyadarkannya, ternyata ia selama ini bukanlah pejabat yang baik. Kemana-mana istri dan anaknya membawa mobil dinasnya untuk belanja, kuliah, dan pelesir. Ini jelas tindakan korup pikirnya. Bukankah mobil dinas diperuntukkan untuk melayani kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi?
Karena kesadaran itu, ia mulailah merasa bahwa ia memang benar-benar seorang koruptor. Untuk itulah ia berjanji akan menikmati hidupnya di penjara dengan ikhlas.

8. Hari Kedelapan
Di hari ini ia tidak ketemu ataupun mendengarkan suara tetangga sebelahnya itu. Ia menjadi gelisah, ia ingin mendengar cerita lagi yang lain dari tetangganya itu. Ia menunggu-nunggu hingga malam merayapi harinya. Namun tetangganya itu tak terdengar suaranya atau sekedar batang hidungnya.
Terus terang tetangganya itu hanyalah satu-satunya teman di bloknya itu. Blok khusus untuk para koruptor. Tiap sel hanya untuk satu orang saja, berbeda dengan blok lain yang harus berbagi dengan yang lain. Menurut informasi yang ia dengar, ini peraturan baru. Tak ada fasilitas TV, spring bed, kulkas maupun taping.

9. Hari Kesembilan
Saat makan siang, mendadak tetangganya itu muncul dengan membawa sebuah cerita baru. Sepertinya tetangganya itu tahu, bahwa ia sedang menunggu cerita darinya. Dan mulailah tetangganya itu bercerita, ”Ada seorang raja yang sangat pemberani. Kemana-mana ia membawa pedangnya. Katanya pedangnya itu untuk digunakan menegakkan kebenaran. Karena keberaniannya itulah tak ada satu pun orang yang tak takut padanya. Pada suatu hari seorang anaknya akan dicalonkan menjadi seorang gubernur. Betapa marahnya dia, sambil mengacungkan pedangnya yang tajam. Dia berkata jangan pernah ada satu keluargaku yang menjadi pemimpin, kecuali aku. Aku tak mau dianggap KKN. Jika kepemimpinanku berhasil maka keberhasilan itu milik keluarga. Kalau gagal, biarlah itu kutanggung sendiri”. Mendengar cerita itu, ia pun menjadi tercekat.

10. Hari Kesepuluh
Di hari kesepuluh ini, ia bertekad bertanya pada tetangganya itu tentang masalah korupsi dan pemecahannya. Ia mengira tetangganya pasti tahu jawaban masalah itu.
Dengan mimik serius dihadapinya tetangganya itu. Melihat muka seriusnya, tetangganya itu tergelak hebat. Setelah tawanya berhenti, ia bertanya, ”Ada apa gerangan dengan dirimu?” ”Aku mau tahu pendapatmu tentang masalah korupsi dan pemecahannya”, ujarnya. Tetangganya itu terbahak lagi, dan berujar, “Apa kau gila? Aku dan kau ini sama-sama koruptor, untuk apa membahas hal itu?” Ia berkelit, “Hanya untuk mengisi hari ini yang kosong saja” “Baiklah. Korupsi itu mudah diberantas. Asalkan ada faktor kepemimpinan yang kuat. Kepemimpinan yang kuat di sini bukan diartikan kemimpinan lalim, tapi kepemimpinan yang meletakkan dasar hukum yang berkeadilan. Selain itu kepemimpinan yang bisa menyetir pemikiran bahwa korupsi itu mudah diberangus. Keseharian dari seorang pemimpin itu juga penting, bagaimana ia tidak hidup dalam kemewahan, selain daripada menggunakan tangan-tangan kekuasaannya untuk memenangkan tender proyek para pendukungnya, yang disertai juga bagi-bagi kue kekuasaan. Selain itu, harus jujur dan profesional”, jelasnya. “Itu bahasan terlalu melangit, tak segera dapat terwujudkan”, debatnya. “Jika kau ingin benar-benar memberangus korupsi, apakah kau pernah hidup jauh dari yang namanya suap dan pungli, pernah bersarasehan dengan orang-orang tentang korupsi, pernah menggalang massa berunjuk rasa menentang korupsi, pernah membuat LSM anti korupsi, pernah menyebar pamflet atau menyebarkan buku tentang anti korupsi, pernah menjadi duta anti korupsi, pernah membela orang-orang yang menjadi korban korupsi, atau paling tidak pernah berjanji dalam lisan, hati dan perbuatan untuk tidak berkorupsi? Jika belum, apakah kamu pernah berdo’a setiap hari dijauhkan dari perbuatan korupsi? Jika belum ada satu pun yang pernah kau lakukan, coba satu dululah!”, tandas tetangganya itu. “Ya ya aku belum pernah melakukan semua itu. Maksudku apakah kita perlu mencontoh dari negara lain, seperti hukuman potong tangan, hukuman tembak, hukuman pancung, menyediakan 1.000 peti mati tiap tahun, yang satu khusus untuk sang pemimpin, atau menyita semua kekayaannya lalu dibebaskan karena telah dianggap berjasa terhadap negara, atau disuruh kerja paksa/kerja sosial begitu?”, cerocosnya. Tetangganya itu terdiam lalu menuliskan sesuatu padanya. Ia menjadi terbelalak membaca tulisan itu. Tulisan itu berbunyi :
BUKAN KEBUTUHAN YANG MEMBUAT KITA MENGHALALKAN SEGALA CARA, NAMUN KARENA KETAKUTAN AKAN KEKURANGAN DAN KE-BELUM-AN
http :// dari berbagai sumber  

CERITA KORUPTOR SAKIT MENGGENASKAN

TEMPO Interaktif, Surabaya - Mendapat ceramah mengenai korupsi dari ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, sebanyak 300 pengurus Korpri Pemerintah Provinsi Jawa Timur tampak tegang. Semula, acara bertajuk »Sosialisasi MK dan pengembangan budaya sadar konstitusi bagi anggota Korpri” yang digelar di salah satu ruangan Kantor Gubernur Jawa Timur ini tampak santai. Apalagi, ketika membuka acara, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengeluarkan cerita-cerita lucunya.

Hanya saja, ketika giliran ketua Mahfud MD yang memberikan sambutan, pengurus Korpri yang mayoritas merupakan kepala dinas, kepala badan, biro Pemerinta Provinsi Jawa Timur maupun Kota/Kabupaten se-Jawa Timur ini tampak tegang.

Entah, untuk menyindir atau tidak, Mahfud dalam sambutannya memang mencontohkan beberapa pejabat korup yang akhirnya mati mengenaskan. »Saya punya teman seorang hakim, dia terkenal korup, tapi pinter sekali menyembunyikannya,” kata Mahfud.

Meski melakukan jual beli perkara, hakim itu cerita Mahfud, menyimpan uang hasil korupsinya di rekening seorang temannya. Sehingga beberapa kali diperiksa, si hakim tidak terbukti memiliki harta berlebihan.

Hanya saja, tiba-tiba hakim ini sakit lumpuh sehingga tidak bisa lagi bekerja. »Sakitnya aneh, untuk bergerak dari bangun tidur saja dia membutuhkan suntikan obat dari Singapura senilai Rp 30 juta. Malamnya, jika ingin tidur dia juga harus disuntik lagi Rp 30 juta,” kata Mahfud.

Karena sangat merepotkan keluarganya, hakim ini lantas dibiarkan begitu saja oleh keluarga hingga akhirnya meninggal dunia. »Ya begitulah korupsi, hasil korupsi pasti membuat hidup tidak tenang,” cerita Mahfud.

Mahfud menceritakan bagaimana tidak nyamannya hidup para koruptor. »Orang itu kalau korupsi, ada polisi lewat saja dia sudah tidak nyaman. Bahkan ada mobil pemadam kebakaran dikira polisi,” kata dia.

Melihat ketegangan ini, Mahfud lantas mengakhiri ceramahnya itu dengan guyonan Madura. »Pernah ada sidang di MK, yang jadi saksi orang Madura. Dia bilang tidak bisa ngomong bahasa Indonesia, tapi setelah ada seorang penerjemah, eh, dia malah bilang terjemahannya keliru. Jadi saya ngomong bahasa Indonesia saja,” pungkas Mahfud disambut ger-geran peserta sosialisasi.

Sekretaris Provinsi Jawa Timur Rasiyo berharap cerita Mahfud ini menjadi pemicu seluruh pejabat untuk menghidari perilaku korupsi. »Luar biasa cerita pak Mahfud, semoga kita menjadi pegawai yang bersih,” kata Rasiyo.

note: Emang bener kok , Tuhan tidak pernah tidur pasti akan mendapat Balasan-Nya entah itu kapan baik itu dia maupun keluarganya

CERITA MENGENASKAN KETIKA KORUPTOR NAIK HAJI

Ketika Teman ku naik haji, temanku menceritakan tentang cerita-cerita yang sering dikisahkan orang-orang, bahwa banyak sekali jamaah haji atau umroh, yang mengalami pembalasan atas perbuatan buruknya kala di tanah air.[ ] Aku yakin teman-teman semua pasti dengar kan cerita-cerita itu? Atau cerita bagaimana seseorang yang sangat ingin mencium hajar aswad,dia serasa ditolong entah siapa, sepertinya malaikat yang datang dan beralih rupa, memudahkan jalan baginya, sementara keadaan berdesak-desak (ini biasanya kisahnya para artis yang baru pertama kali ke tanah suci :D)[ ] Tapi tak pikir-pikir (bersama rekan-rekanku juga), kami selama itu tinggal di tanah suci kok ya ga alamin atau tahu sendiri hal-hal aneh itu ya? Yang katanya pembalasan atau pertolongan, dan seterusnya, hehehe..[ ] Bukan menafikan, tetapi ala kulli haal (apapun keadaannya) lepas dari benar atau tidak, cerita-cerita tuah tanah suci tersebut tetap memberikan pelajaran bagi siapapun agar tidak kurang ajar sama orang.[ ] Soal ini, aku pernah mendapat cerita lucu, ada baiknya aku ceritakan lagi, meski aku yakin teman-teman semua telah tahu.[ ] Diceritakan, ada seorang koruptor lagi naik haji. Selama berada di Makkah dia sangat menyesali segala perbuatan buruknya, niat bertaubat sungguh-sungguh dan ingin mengembalikan hak rakyat yang dia ambil.[ ] Kala di depan Ka'bah, dia meratap-ratap pilu, menangis, dan bersujud lama, segala rupa macam doa dia baca dan dia rapal.[ ] Namun ketika bangun dari sujudnya, mendadak dunia berubah.


Jadi gelap, pengap, dan bau ! Bukan main takutnya sang koruptor tadi. Makin kencang lah tangisnya dan semakin takut dia. Berjuta-juta sesal keluar dari seluruh hatinya. Sujud makin panjang.[ ] Dan setelah merasa agak lega, dengan agak takut dia bangkit kembali. Pelan-pelan dibukanya matanya. Seketika dunia telah kembali seperti sedia kala. Terang benderang, masjidil haram dengan Ka'bah nan agung terlihat begitu indahnya, tak terperi kegembiraan pak koruptor tadi.[ ] Padahal, tadi saat dunia berubah mendadak gelap, pengap dan bau tadi, sebenarnya tanpa dia sadari, kala dia bangkit dari sujud, dia masuk dalam rok ibu-ibu dari Afrika yang sedang lewat di depannya. Ehehehe. : Alhasil, banyak kisah-kisah seperti itu yang kerap kita baca di tabloid-tabloid, dan mungkin saja terjadi. Sebab Mekkah sendiri sebenarnya adalah kota yang sangat tepat untuk merenungi segala kesalahan, menata kembali langkah untuk melanjutkan kehidupan.[ ] Semoga saja cerita pak koruptor tadi tak sekedar anekdot, tapi cerita sungguhan yang membuatnya tobat, meskipun cuma masuk roknya ibu-ibu Afrika, hehehe.

CERITA LUCU KORUPTOR YANG SUKSES

Kali ini Cerita Korupsi tentang anggota DPR, namanya saya lupa. tapi cerita korupsi ini saya dapat dari anak si koruptor itu. hahaha
“Aku salut dengan bapakmu,” puji seorang anak pada temannya yang memiliki bapak, selain anggota DPR juga pengusaha sukses.
“Kenapa emang?”
“Dia betul-betul pintar ngatur waktu. Selain karier politiknya melesat, perusahaannya pun maju pesat.”
“Ooo…”
“Omong-omong, berapa lama bapakmu tidur seharinya?” si anak bertanya lagi.
“Itu tergantung.”
“Maksudnya?”
“Kata bapak, tergantung berapa lama sidangnya.”